Dengan pendapatan 300 ribu perbulan, Pak Sarwi harus bisa mencukupi kebutuhan keempat anaknya. Keterbatasan yang ada, tidak menghalagi Pak Sarwi yang seorang tunanetra menempuh kiloan meter untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah agar keluarganya tetap bisa bertahan hidup.

Pak Sarwi (58) dan Bu Endang (50) merupakan pasangan tunanetra yang bekerja sebagai tukang pijat. Meski sudah memiliki sertifikat dan ijazah pijat resmi, mereka tak pernah mematok harga untuk layanan pijatnya. Biasanya pelanggan membayar 30-50 ribu untuk sekali pijat. Itupun dalam sebulan, Pak Sarwi dan Bu Endang tidak selalu mendapat pelanggan.
Keluarga Pak Sarwi tinggal di rumah kecil berukuran 4x2 m2 dengan kondisi tembok yang sudah pecah-pecah dan hanya beralaskan tanah. Pasangan ini dikaruniai 4 orang anak, yang salah satunya juga penyandang tunanetra. Sayangnya, sang anak yang seharusnya melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas Inklusi, terpaksa harus putus sekolah, karena tak mampu membayar biaya sekolah.

Dengan berbagai keterbatasan dan ujian yang mereka hadapi, mereka tak ingin menyusahkan atau mengeluh pada orang lain. Mereka terus berusaha agar anak-anak bisa tetap makan walaupun hanya dengan sejumput nasi dan lauk seadanya.
#Orangbaik, tidakkah kita merasa perlu meringankan sedikit beban mereka dengan segala nikmat dan kesempurnaan yang kita miliki?
Oleh karena itu, kami dari Yayasan Sukoharjo Peduli ingin mengajak teman-teman dermawan untuk ikut meringankan beban Pak Sarwi dan Bu Endang, juga puluhan penyandang tunanetra lain di luar sana agar bisa hidup lebih sejahtera dari sebelumnya.
Langkah mudah berdonasi:
Atau melalui e-wallet:
Jadilah donatur pertama di program ini